Posyandu Mawar (12/06/2026) - Dunia kesehatan publik di tingkat akar rumput terus bersiap menghadapi era modernisasi. Komitmen inilah yang mendorong kolaborasi nyata antara jajaran dosen dan mahasiswa dalam menggelar aksi pengabdian masyarakat di Posyandu Mawar pada Jumat (12/6). Mengusung misi utama "Pendampingan Kader dalam Sistem Digitalisasi", kegiatan ini dirancang untuk membawa perubahan signifikan pada tata kelola administrasi kesehatan setempat. Kegiatan ini fokus pada program pendampingan intensif bagi para kader posyandu untuk mulai beralih ke sistem digitalisasi data kesehatan.
Langkah inovatif ini diambil untuk meremajakan sistem pencatatan konvensional yang selama ini dinilai memakan waktu dan rentan terhadap risiko kehilangan data. Melalui integrasi teknologi, para kader kini dibekali keterampilan untuk mengoperasikan perangkat digital guna mencatat tumbuh kembang anak, data ibu hamil, data remaja dan lansia, serta pelaporan posyandu secara real-time.
Perwakilan tim pengabdian masyarakat menyampaikan bahwa transformasi digital di lingkup posyandu bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk mempercepat deteksi dini masalah kesehatan seperti stunting. Kehadiran mahasiswa dalam kegiatan ini juga menjadi jembatan teknologi yang efektif dalam memandu para kader beradaptasi dengan aplikasi kesehatan yang baru diterapkan.
Selama ini, Posyandu Mawar mengandalkan pencatatan berbasis buku register fisik untuk memantau tumbuh kembang balita, kesehatan ibu hamil, serta program lansia. Sadar akan adanya tantangan efisiensi, akurasi data, dan lambatnya pelaporan berjenjang, tim akademisi turun langsung memberikan solusi teknologi yang aplikatif.
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hari ini diawali dengan sesi pemaparan materi mengenai pentingnya literasi digital di sektor kesehatan.
Dengan sabar, para mahasiswa mendampingi setiap kader posyandu yang mayoritas merupakan ibu-ibu PKK untuk mengenal, mengunduh, hingga mengoperasikan platform digital posyandu. Mulai dari menginput data antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkar kepala), grafik pertumbuhan digital, hingga memanfaatkan sistem pemantauan gizi secara otomatis.
Transformasi ke arah digital ini dipercaya akan memangkas birokrasi pelaporan yang selama ini cukup menyita waktu para kader. Melalui sistem baru ini, data yang dimasukkan akan langsung terintegrasi dan menghasilkan analisis instan, sehingga kasus-kasus berisiko seperti indikasi stunting atau gizi buruk dapat dideteksi jauh lebih cepat dan akurat.
“Digitalisasi ini bukan untuk mempersulit kerja kader, melainkan alat bantu agar tugas mulia Ibu-Ibu sekalian menjadi lebih ringan, cepat, dan datanya aman tidak hilang dimakan waktu," ujar Bdn. Rahmi Fitria, M.Biomed, selaku ketua Program Studi dan beberapa dosen merupakan anggota pelaksana.
